sewa ambulance

Latest News

Merasa tidak bahagia setelah menikah? Lakukan hal ini untuk mengubahnya!

Pernahkah Parents merasa was-was jika akan merasakan tidak bahagia setelah menikah? Atau justru saat ini sedang mengalaminya?

Seorang ibu membagikan pemikiran mengenai kehidupan pernikahannya yang tidak bahagia secara anonim di komunitas theAsianparent. Ia merasa tidak nyaman dengan pernikahan akibat sikap suami yang dinilai menjadi berbeda setelah mereka menikah.

Aku merasa lebih bahagia saat pacaran dulu,” tulisnya dalam forum aplikasi theAsianparent Indonesia.

Tidak hanya itu, unggahan sang Bunda tersebut juga mengundang banyak respon yang beragam. Termasuk dari orangtua lain yang juga merasa bahwa mereka tidak bahagia dengan pernikahannya.

Lalu, sebenarnya seperti apa sih, wujud dari pernikahan bahagia dan tidak bahagia itu? Apa penyebabnya dan bagaimana langkah untuk mengatasi kondisi tersebut.

tidak bahagia setelah menikah

Artikel terkait: 3 Pertanyaan sederhana yang akan buat pernikahan Anda selalu bahagia

Penyebab umum seseorang merasa tidak bahagia setelah menikah

Sebenarnya, bahagia dan tidak dalam pernikahan tidak bisa diukur secara mutlak. Maksudnya, pasangan dengan pernikahan yang disebut bahagia tidak hanya mengalami momen-momen indah dalam kehidupan mereka. Namun, biasanya pasangan tersebut lebih fokus pada momen kebahagiaan mereka.

Berbeda dengan pernikahan yang tidak bahagia, pasangan cenderung hanya fokus pada momen negatif yang menerpa. Dan mengabaikan momen indah yang mereka miliki.

Hal tersebut juga selaras dengan pendapat pakar John Gottman. Hal ini ini dijelaskan oleh Anna Surti Ariani, selaku psikolog keluarga yang mejelaskan perbedaan pernikahan bahagia dan tidak bahagia menurut John Gottman:

tidak bahagia setelah menikah

  • Pernikahan yang bahagia memerlukan timbal balik komunikasi

Cara timbal balik komunikasi berpengaruh untuk membentuk pernikahan yang bahagia. Dalam penikahan bahagia, ketika pasangan mengatakan sesuatu yang positif, maka kita pun akan merespon dengan cara yang positif juga.

Apabila pasangan mengatakan yang negatif, respon yang diberikan cenderung tidak langsung. Seseorang akan mencoba memahami terlebih dulu mengapa pasangannya tersebut bisa mengungkapkan ucapan negatif tersebut.

Berbeda dengan pernikahan tidak bahagia. Biasanya, sesuatu hal yang positif akan dianggap biasa saja. Di sisi lain, lontaran negatif akan direspon secara langsung dengan cara yang negatif juga.

  • Interpretasi pesan

Dalam pernikahan bahagia, saat pasangan mengatakan hal yang menyakitkan, maka seseorang tidak akan menyalahkan pasangan atau pun dirinya sendiri. Daripada saling menyalahkan, seseorang akan fokus mencari sumber permasalahan dan mencari sisi positif dari perkataan menyakitkan.

Di sisi lain, pernikahan yang tidak bahagia, pendengar akan cenderung fokus pada rasa sakit hatinya akibat perkatan yang ia dengar. Hal ini akan mendorong ia untuk membalas dengan kalimat negatif juga yang bisa berujung pada pertengkaran.

  • Adanya pola ‘menuntut-menarik diri’

Pihak yang menuntut biasanya perempuan, sementara laki-laki lebih memilih mundur dan menarik diri. Saat pola ini terbentuk, pernikahan bisa dikatakan kurang bahagia.

Psikolog Anna Surti Ariani juga menjelaskan bahwa, dalam pernikahan yang bahagia biasanya tuntutan diberikan secara wajar dan dikomunikasikan dengan cara yang tepat.

“Jadi, pasangan mendengarkan, berdiskusi soal tuntutan tersebut, dan berusaha memenuhinya dengan dukungan penuh cinta dari ‘si penuntut’,” tulis psikolog yang akrab disapa Nina tersebut.

Sementara dalam pernikahan yang tidak bahagia, biasanya salah satu pihak memberikan tuntutan yang sulit dipenuhi. Di sisi lain, pasangannya malah menarik diri, komunikasi jadi kurang berjalan, dan akhirnya keduanya frustasi.

Artikel terkait: 7 Cobaan Awal Menikah, Parents pernah mengalaminya?

  • Interpretasi perilaku pasangan

Cara seseorang menginterpretasikan dan merespon perilaku pasangan ternyata membedakan kebahagiaan dalam pernikahan.

Pada pernikahan yang bahagia, ketika pasangan melakukan sesuatu yang negatif seperti berbicara kasar, biasanya orang akan menginterpretasikan sebagai sesuatu yang sifatnya sementara dan akan segera berlalu. Perilaku negatif tersebut merupakan hal yang diakibatkan oleh faktor lain di luar pasangan, bukan atas dasar sifatnya.

Pada pernikahan yang tidak bahagia, saat pasangan melakukan sesuatu yang negatif, seseorang malah mengartikan sebagai sifat bawaan atau ‘sifatnya memang begitu’, atau ‘dia memang egois’. Saat pasangan melakukan sesuatu yang positif, malah berpikir bahwa itu merupakan sikap yang sementara.

Unhappy couple not talking to one another

Artikel terkait: Mengenal ‘Gasligthing’ pelecehan psikologis dalam pernikahan, ini ciri dan cara mengadapinya¬†

Merasa tidak bahagia setelah menikah? Mulai lakukan perubahan ini!

Dari perbedaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya pernikahan yang bahagia juga pasti akan menemukan momen di mana pasangan menunjukkan perilaku atau kata-kata negatif. Namun, seperti yang dijelaskan Nina, pasangan yang bahagia cenderung fokus pada hal yang positif dan selalu berusaha mengembalikan kondisi menjadi lebih positif lagi.

Di sisi lain, pernikahan yang tidak bahagia biasanya terlalu fokus pada sisi negatif, rasa sakit hati, serta amarah. Ketiga hal tersebutlah yang justru akan memperburuk kondisi pernikahan.

“Ini adalah pilihan. Ingin pernikahan yang bahagia atau tidak? Jika iya, maka perubahan perlu dimulai dari diri kita, bukan menyalahkan orang lain. Selalu diskusi dengan pasangan untuk menentukan langkah agar kalian bahagia. Jika sudah sulit berdiskusi, mungkin kalian sudah butuh orang ketiga yang netral untuk menengahi permasalahan,” tutup Nina.

***

: Pra Nikah

:

Ingin bercinta di malam tahun baru? Lakukan 5 posisi seks panas ini dengan pasangan

The post Merasa tidak bahagia setelah menikah? Lakukan hal ini untuk mengubahnya! appeared first on theAsianparent- Panduan Kehamilan, Bayi dan Membesarkan Anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top