sewa ambulance

Latest News

Pentingnya Kerja Sama untuk Mencegah Bunuh Diri, Sudahkah Kita Lakukan?

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dirayakan pada 10 September setiap tahun. Pada Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2020, tema yang diusung adalah pentingnya kerjasama dalam melakukan upaya pencegahan bunuh diri.

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Association for Suicide Prevention (IASP) mencatat bahwa angka bunuh diri masih tergolong tinggi. IASP mencatat bahwa setidaknya 300 orang telah mencoba bunuh diri di sekitar 70 negara. Sedangkan WHO mencatat jika ada 10.000 orang di Indonesia meninggal setiap tahun akibat bunuh diri.

hari pencegahan bunuh diri sedunia 2020

Tingginya angka kematian akibat bunuh diri juga dijelaskan oleh Murad Khan, Presiden IASP. Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2020, dimana hampir semua negara mengalami pandemi Virus Corona, terdapat risiko angka bunuh diri akan meningkat. Hal ini karena tingkat stres dan kecemasan seseorang cenderung meningkat akibat masa isolasi atau pergantian diri akibat COVID-19.

“Perlu kita ketahui, setiap 40 detik seseorang bisa saja mengakhiri hidupnya. Hampir 800 ribu orang setahun melakukan eksperimen ini di seluruh dunia,” kata Murah, seperti dikutip dari laman CNN Indonesia.

Ia juga menambahkan, "Kolaborasi perlu dilakukan. Setiap orang memiliki peran dalam mencegah bunuh diri. Meskipun Anda berada jauh selama pandemi ini, jangan takut untuk menjangkau seseorang dan terhubung dengan mereka sebagai seorang tindakan pencegahan. "

Artikel terkait: Khawatir virus corona menyebabkan insomnia? Lakukan 6 tips ini agar Anda bisa tidur nyenyak

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2020: Pentingnya Kolaborasi dalam Memahami Depresi untuk Mencegah Bunuh Diri

hari pencegahan bunuh diri sedunia 2020

Tingginya angka kematian akibat bunuh diri membuat WHO dan IASP mendesak kerja sama semua pihak untuk melakukan tindakan pencegahan. Satu hal yang bisa dilakukan adalah saling memahami dan menghilangkan stigma negatif terkait bunuh diri.

Dalam artian, setiap orang perlu memahami bahwa bunuh diri itu kompleks dan tidak lepas dari kondisi mental seperti depresi. Tidak hanya itu, proses memahami keterkaitan antara depresi dan bunuh diri juga tidak mudah. Penjelasan juga disampaikan dr. Andri, Sp.KJ, FAPM dari RS Omni Alam Sutera.

“Terkadang kita masih distigmatisasi dengan kondisi di mana orang yang mengalami gangguan jiwa memiliki kelemahan iman, atau tidak bersyukur dalam hidup. Padahal, depresi merupakan jenis gangguan kesehatan yang umum terjadi pada siapa saja dan kapan saja,” tuturnya. Andri melalui sesi sharing yang ia bagikan melalui akun YouTube miliknya.

Kecenderungan Bunuh Diri Dapat Mempengaruhi Siapapun

hari pencegahan bunuh diri sedunia 2020

Sementara dr. Jiemi Ardian, SpKJ juga menjelaskan hal yang sama. Ia menjelaskan bahwa keinginan dan kecenderungan untuk bunuh diri sebenarnya bisa menyerang siapa saja. Hanya saja, keinginan ini bisa diungkapkan secara aktif maupun pasif.

Artinya ada seseorang yang menyatakan ingin bunuh diri dengan jelas. Misalnya, "Saya ingin mati", "Saya ingin memotong diri saya sendiri", dan seterusnya.

Namun, tak bisa dipungkiri ada orang yang menyatakan keinginan tersebut secara pasif. Misalnya, & # 39; Saya ingin menghilang & # 39 ;, & # 39; Tidak bisakah, ya, besok adalah akhirnya? & # 39 ;. atau & # 39; Saya ingin melewati besok dan seterusnya & # 39 ;.

Jiemi menjelaskan, “Mereka yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri memiliki cara berkomunikasi sendiri-sendiri. Terkadang seseorang langsung berkata bahwa dia ingin mengakhiri hidupnya. Namun, ada juga yang melalui kode. Seperti bahasa tersirat atau bahkan melalui karya seperti puisi.

“Beberapa pikiran bunuh diri memang ada dalam konteks pasif dan ringan. Namun, jika berkembang, pikiran ini akan berkembang menjadi pikiran aktif bunuh diri. Beberapa bahkan meningkat ke tahap percobaan dan perencanaan bunuh diri. Inilah yang perlu kita waspadai , ”Kata Jiemi melalui akun Youtube-nya.

Mendengarkan, Kunci Mencegah Bunuh Diri

Intinya, pikiran untuk bunuh diri juga merupakan aktivitas pikiran manusia. Menurut penjelasan Jiemi, pikiran untuk bunuh diri juga disebabkan oleh sakit psikis seseorang.

“Jadi, orang itu sebenarnya tidak mau mengakhiri hidupnya. Dia hanya ingin mengakhiri penderitaannya. Sakitnya begitu dalam hingga tidak waras dalam mencari solusinya, ”ujar dokter yang kerap berpraktik di Siloam Hospitals Bogor ini.

Tidak hanya itu, biasanya penderita depresi juga memiliki dua pemikiran yang saling bertentangan dalam benaknya. Kondisi ini disebut ambivalensi. Jadi, pada satu titik mereka ingin mengakhiri hidup mereka, tetapi pada saat yang sama mereka tidak ingin mati.

“Ada dua perasaan yang muncul bersamaan. Jadi mencegah bunuh diri tidak sesederhana menyuruh orang untuk bersyukur. Lalu apa yang perlu dilakukan? Upaya terbaik adalah mengurangi rasa sakit dengan mendengarkan tanpa menghakimi,” kata Jiemi. .

Artikel terkait: Hati-hati, sering tersenyum menutupi kesedihan yang berisiko bagi kesehatan

Karena pada dasarnya, orang dengan kecenderungan bunuh diri hanya perlu berbagi dan mengungkapkan rasa sakitnya. Jadi mendengarkan dan memahami adalah langkah terbaik untuk membantunya.

“Telinga kita yang mendengar bisa menyelamatkan hidup mereka. Di sisi lain, mulut Anda yang menusuk mereka, bahkan bisa lebih membunuh mereka. Jadi berhati-hatilah dalam menyampaikan sesuatu kepada orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri, ”kata Jiemi lagi.

Sementara itu, pikiran atau pikiran untuk bunuh diri juga bisa dicegah dengan beberapa cara. Mengutip dari halaman Help Guide, cara yang bisa dilakukan untuk mencegah pikiran untuk bunuh diri antara lain:

  • Ingatlah bahwa emosi bisa berubah kapan saja dan tidak mutlak. Akan ada kebahagiaan dalam kesedihan yang melanda. Konflik dan masalah mungkin berhenti hari ini, tetapi besok mungkin hanya hal-hal baik yang akan datang.
  • Ingatlah selalu bahwa akan selalu ada orang yang mendukung dan mendampingi perjuangan hidup Anda.
  • Saat pikiran buruk datang, tenangkan diri Anda dan temukan tempat yang aman. Jauhkan dari objek yang berpotensi melukai atau memperkuat pikiran untuk bunuh diri.
  • Tidak apa-apa jika sedang tidak enak badan. Namun, ingat juga bahwa bantuan dan solusi akan selalu ada. Jangan ragu untuk meminta bantuan.

Artikel terkait: Me time, salah satu teknik alami mengatasi depresi setelah melahirkan

Kecenderungan bunuh diri bisa merelakan siapa saja kapan saja, apalagi di saat pandemi yang sulit seperti saat ini. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dari setiap individu untuk memahami fenomena tersebut dan melakukan upaya pencegahannya.

Meski kontak fisik terbatas selama pandemi ini, jangan ragu merangkul mereka yang membutuhkan dukungan psikologis terkait masalah yang dihadapi.

“Tidak mudah hidup dengan pikiran untuk bunuh diri. Tapi perlu diingat, pertolongan itu ada dan bisa dihubungi. Jadi, bagi kalian yang punya pemikiran seperti ini mohon izinkan diri untuk mendapatkan bantuan,” pungkas Jiemi.

***

Para orang tua, dalam memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2020, mari kita pahami dengan lebih baik bahwa kasus bunuh diri adalah perkara kompleks yang perlu ditangani bersama. Rangkullah mereka yang membutuhkan. Jika Anda pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri, merasa tertekan, atau kelelahan secara psikologis, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Semoga bermanfaat!

***

:

Anak-anak juga bisa mengalami depresi, mengenali gejalanya dan cara menghadapinya dengan tepat

Postingan Pentingnya Kerja Sama untuk Mencegah Bunuh Diri, Sudahkah Kita Lakukan? muncul pertama kali di theAsianparent: Situs Parenting Terbaik di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top