sewa ambulance

Latest News

PVMBG: Suara Boom Bukan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Jakarta, IDN Times – Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan, bunyi ledakan itu bukan berasal dari Gunung Anak Krakatau tetapi dari bunyi petir di Gunung Gede, Jawa Barat.

"Suara ledakan itu tidak terkait dengan letusan Anak Krakatau. Mereka (pasca PVMBG) menjawab di Gunung Gede tadi malam bahwa hujan dan gemuruh antara 18 dan 22," kata Kepala Bagian Mitigasi Gunung Api Hendra Gunawan ketika melewati tulisannya pernyataan pada hari Sabtu (11/4).

1. Erupsi Gunung Anak Krakatau dengan tipe strombolian

PVMBG: Suara Boom Bukan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Hendra mengatakan, yang terjadi di Gunung Anak Krakatau adalah letusan yang terjadi pada pukul 22.35 WIB yang berlokasi di Selat Sunda di kawasan Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, hanya mengeluarkan semburan dengan ketinggian sekitar 500 meter.

"Ini hanya tipe letusan yang miskin gas (tipe strombolian). Jadi sulit membayangkan bahwa itu bisa mengakibatkan jarak ratusan kilometer, "katanya.

2. Pos Gunung Salak membenarkan guntur petir

PVMBG: Suara Boom Bukan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kepala BNPB Doni Monardo juga telah mengkonfirmasi berdasarkan laporan dari pos Gunung Salak yang mengkonfirmasi suara guntur seperti guntur.

"Saat itu jam 2 pagi ketika saya mendengar suara guntur seperti kilat, tetapi itu tidak dicatat dalam gempa bumi. Cuaca cerah dan pegunungannya cerah," kata Doni.

3. Tidak ada peningkatan dalam ancaman Gunung Anak Krakatau selama Januari hingga 10 April 2020

PVMBG: Suara Boom Bukan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Sebelumnya, PVMBG dari Badan Geologi memantau material batuan pijar yang telah dibawa ke permukaan dengan intensitas yang belum signifikan, jauh lebih kecil dari serangkaian letusan pada periode Desember 2018 – Januari 2019.

Bahaya potensial dari aktivitas Krakatau Gunung Anak saat ini, menurut PVMBG, adalah semburan material lava, aliran lava, dan hujan abu lebat di sekitar kawah dalam radius 2 km dari kawah aktif. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat terpapar di daerah yang lebih jauh tergantung pada arah dan kecepatan angin.

Aktivitas vulkanik dalam bentuk erupsi tipe strombolian saat ini, menurut PVMBG, bahan pijar hanya tersebar di sekitar kawah (masih dalam batas-batas wilayah rawan bencana yang direkomendasikan).

"Erupsi berkelanjutan memiliki potensi untuk terjadi, tetapi tidak ada gejala vulkanik yang terdeteksi yang mengarah pada intensitas erupsi yang lebih besar," katanya.

PVMBG menyimpulkan, berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental dan potensi bahaya Gunung Anak Krakatau selama Januari hingga 10 April 2020, tidak ada peningkatan ancaman. Level aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih di Level II (Waspada).

Meski begitu, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat / pengunjung / wisatawan tidak bergerak dalam radius 2 kilometer dari kawah / puncak Gunung Anak Krakatau atau sekitar Kepulauan Anak Krakatau.

"Sementara kawasan wisata Pantai Carita, Anyer, Pandeglang dan sekitarnya, serta wilayah Lampung Selatan masih aman dari ancaman aktivitas Gunung Anak Krakatau," lanjut pernyataan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top