sewa ambulance

Latest News

“Suami tidak mau kerja, hubunganku dengan orangtua juga dibatasi,” keluh seorang istri

Berkeluarga merupakan proses pendewasaan bersama yang terjadi antara suami dan istri. Dalam prosesnya, pasangan diharapkan memenuhi peran dan kewajiban berdasarkan kesepakatan. Namun bila salah satunya tidak memenuhi, misalnya saja suami tidak bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga, keharmonisan pernikahan bisa saja terancam.

Seorang Bunda berinisial Y berbagi kisah mengenai pernikahan, terkait tanggung jawab sang suami di keluarganya. Ia menuturkan beberapa perilaku sang suami beserta kegundahan yang dirasakannya.

Seperti apa kisahnya?

Artikel terkait : “Lihat video suamiku berhubungan badan dengan perempuan lain, aku tak sanggup menangis”

“Suami tidak bertanggung jawab membuat hidupku susah”

Suami tidak bertanggung jawab

“Suamiku selalu bahas-bahas tanggung jawab kalau lagi berantem. Contohnya, “kamu harusnya nurut sama aku, aku kan suami kamu, kamu itu udah jadi tanggung jawab aku, bukan orang tua kamu lagi.”

Dia bilang gitu, tapi aku enggak pernah dikasih uang bulanan sama sekali, paling dikasih makan doang 2x sehari. Kalau pagi udah sarapan, siang aku enggak dikasih makan, malam baru makan.

Dia punya usaha kecil, disuruh kerja enggak pernah mau. Padahal ayahku udah mau kepala 6 tapi masih tetap kerja. Kalau mau beli apa apa harus minta dulu, kadang dikasih kadang enggak.

Suami tidak mau kerja padahal keperluan bayi tidak sedikit

Kayak pospak udah habis, aku minta uang untuk beli, dia malah bilang “pakai popok kain ajalah.” Padahal pospak dipakai cuma untuk tidur malam, biar dede nyenyak bobonya. Aku udah ngomongin ke dia kalau itu kurang. Kalau bisa kerja. Karena keperluan bayi enggak sedikit.

Tapi dia enggak pernah mau. Minta beli mainan yg seharga 15 ribuan aja enggak dikasih uangnya. Akhirnya ayahku yg beliin mainan sama pospak dede. Kalau dede sakit juga aku minta ke dokter atau poli anak, dia selalu mikirin “nanti bayarnya gimana?”

Suami tidak bertanggung jawab

Suami tidak membolehkanku dekat dengan orangtua kandungku

Waktu lebaran kemarin juga aku akhirnya harus lebaran ke orang tua di hari kedua karena hari pertama full seharian di tempat keluarga besar dia. Kata dia soalnya kalau di keluarga besar dia si dede dapet uang banyak dan besar, kalau di keluarga aku dapet palingan sedikit.

Ya Allah kok secara enggak langsung kok aku sama aja kayak pengemis yg jejerin anaknya di jalanan itu ya bun?  Padahal yang suka belanjain keperluan si dede itu ayah dan ibu saya, keluarga dia enggak pernah.

Dan saya juga jarang dibolehin ke rumah orang tua saya, kalau saya nginep di rumah orang tua saya, dia enggak pernah mau. Padahal orang tua saya tuh sayang banget sama dia, walau menantu tapi udah dianggap anaknya sendiri bun, tapi kayaknya dia enggak pernah mau anggap orang tua saya kayak orang tua dia.

Saya juga tinggal deket sama rumah mertua, jadi jauh jauhan sama orang tua saya tinggalnya.

Artikel terkait : 5 Cerita haru menghadapi ujian awal pernikahan, Bunda juga mengalaminya?

Suami tidak bertanggung jawab, bagaimana hukum Islam memandangnya?

Menurut ajaran agama Islam, baik suami maupun istri memiliki tanggung jawab dan haknya masing-masing. Suami khususnya, memiliki kewajiban materi dan nonmateri yang sebaiknya dipernuhi.

Kewajiban materi

Secara materi, beberapa kewajiban kepada istri ini di antaranya :

1. Memberikan mahar

Mahar yaitu harta yang wajib diberikan saat akad pernikahan. Tujuan dari pemberian mahar ini ialah untuk memuliakan seorang perempuan.

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. Annisa’ ayat 4).

2. Memberi nafkah

Mayoritas ulama sepakat bahwa nafkah wajib diberikan suami pada istri yang merawatnya dan keluarga. Terkait dengan kewajibannya ini, ada dalil yang melatarbelakanginya.

“Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS Al-Baqarah : 233). Selain itu, dalam hadits pun diterangkan mengenai kewajiban suami satu ini.

Disebutkan riwayat dari Aisyah ra. ia berkata, “Hindun bin Utbah, istrinya Abu Sufyan mendatangi Rasulullah saw. ia berkata, “wahai Rasulullah saw. sungguh Abu Sufyan adalah laki-laki yang pelit, ia tidak memberikanku nafkah apa yang dapat mencukupiku dan anak-anakku, kecuali (dengan cara) aku mengambil sebagian hartanya dengan tanpa sepengetahuan Abu Sufyan, apakah aku berdosa? Rasulullah saw. bersabda, “ambillah dari hartanya apa yang dapat mencukupimu dan anak-anakmu dengan cara yang benar.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

3. Memberikan pakaian

Terdapat dalil mengenai kewajiban suami memberikan pakaian yang layak pada anak dan istrinya. Hal ini disebutkan dalam ayat Al-Qur’an dan hadits.

Hadis riwayat Jabir bin Abdillah menyebutkan dalam salah satu isi pidato Nabi SAW, saat haji wada’ adalah, “dan bagi mereka (istri-istri) wajib bagi kalian memberikan rezeki dan pakaian yang baik kepada mereka.” (HR. Muslim).

Memberikan pakaian layak pun diambil dari dalil dalam surah Al-Baqarah ayat 233 “dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.”

4. Memberikan tempat tinggal

Kewajiban materi lain yang hendaknya dipenuhi ialah memberikan tempat tinggal yang layak dan sesuai kadar kemampuan. “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu” (QS. At-talaq ayat 6).

Artikel Terkait : Kisah seorang Bunda, “Mantan kekasih suamiku masih terus mengganggu”

Kewajiban non materi

Selain dari segi materi, suami pun hendaknya memerhatikan kewajiban dari segi nonmateri. Di luar sandang, pangan, papan, beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan adalah :

1. Menggauli istri dengan baik

Dalam agama Islam, wajib hukumnya setiap suami untuk memperlakukan istri dengan baik saat berhubungan seksual. Tentu, setiap suami hendaknya mengutamakan kenyamanan sang istri.

Beberapa adab dalam bergaul pun sebaiknya diperhatikan setiap pasangan. “Dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan baik”. (QS An-Nisa : 19).

Dari Aisyah R.A ia berkata, “Nabi SAW pernah mencium sedangkan beliau berpuasa, dan beliau pun pernah menyentuh kulit sedangkan beliau berpuasa, tetapi beliau lebih dapat menahan nafsunya.” (Muttafaqun Alaih).

Dalam bersikap, Rasulullah pun sudah mencontohkan berbagai perilaku yang boleh dan tak boleh dilakukan.

2. Tidak bersikap kasar

Dalam keseharian, suami pun berkewajiban untuk bersikap baik dan bijak. Tidak diperkenankan bagi setiap suami untuk bersikap kasar baik secara fisik maupun perkataan.

***

Itulah ulasan tentang kewajiban dan tanggung jawab suami istri kepada pasangannya. Semoga hati suami Bunda Y bisa dibukakan dan segera menyadari bahwa apa yang ia lakukan telah menyakiti hati istrinya.

Sumber : Aplikasi TheAsianparent, bincangsyariah

Baca Juga :

Kisah merawat mertua yang sakit: "Awalnya beban kini jadi berkah kehidupan"

The post “Suami tidak mau kerja, hubunganku dengan orangtua juga dibatasi,” keluh seorang istri appeared first on theAsianparent- Panduan Kehamilan, Bayi dan Membesarkan Anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top